📚 BAGIAN 26 - Roja' adalah Ibadah 📚
♥️ Yuk muroja'ah materi Tsalatsatul Ushul ♥️
Berikut daftar pembahasan dalam artikel ini :
⭕ Defenisi Roja'
⭕ Perbedaan Antara Tamanni dan Roja’
⭕ Macam-macam Roja`
⭕ Tanda-tanda adanya Roja` pada diri seseorang adalah
⭕ Peranan Roja` (rasa harap) dan Khouf (rasa takut) dalam kehidupan seseorang
⭕ Dalil tentang roja QS. AL KAHFI AYAT 110
⭕ Kaedah Penting (Manhaj Firqoh menyimpang dalam masalah Aqidah)
🗣 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menjelaskan:
ودليل الرجاء قوله تعالى :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
[سورة الكهف، الآية: 110]
Dan dalil untuk Roja` adalah firman Allah Ta’ala (artinya): ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Robbnya.”
[ Al-Kahfi : 110 ]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚PENJELASAN📚
Ar-Roja’ merupakan amalan ibadah yang sangat agung di antara amalan-amalan hati
⭕ Pengertian Roja` ⭕
✒ Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan pengertiannya dalam kitab “Madarij As-Salikin” (2/36 – 37) dengan menyebutkan beberapa pengertian diantaranya:
✔ Roja' adalah dorongan hati untuk meraih negeri yang dicintai, Allah Ta’ala dan negeri akhirat. Sehingga perjalanan hidup serasa menyenangkan hati.
✔ Roja' adalah optimis dengan kebaikan dan keutamaan yang berasal dari Allah Ta’ala. Terus mencarinya dengan hati yang lapang.
✔ Makna lain dari Roja' adalah Percaya (dan yakin) dengan kedermawanan Allah Ta’ala.
✔ Pada intinya Roja` (rasa harap) muncul pada diri seseorang tatkala ia melihat luasnya rohmat Allah Ta’ala. Dan dalam prakteknya harus diiringi dengan amal (usaha). Karena orang-orang bijak sepakat bahwa yang namanya roja` (rasa harap) tidak sah kecuali jika diiringi dengan amal (usaha).
❌ Adapun harapan tanpa usaha dinamakan dengan tamanni (angan-angan semata).
⭕ Perbedaan Antara Tamanni dan Roja’ ⭕
Perbedaan antara keduanya sangatlah jelas. Tamanni adalah mengharapkan sesuatu tanpa menempuh sebab-sebabnya. Adapun roja’ adalah mengharapkan sesuatu dengan menempuh sebab-sebabnya dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
⭕ Macam-macam Roja` ⭕
Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan dalam kitab “Madarij As-Salikin” (2/37) bahwa “Roja`” ada tiga macam, dua yang pertama terpuji, sedangkan yang ketiga tercela;
✔👉 Yang Pertama: Berharap Pahala
Misalnya: Seseorang berharap pahala dengan melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, di atas cahaya (ilmu) dari Allah Ta’ala.
✔👉 Yang Kedua: Berharap Ampunan
Misalnya: Seseorang berharap maaf, ampunan, kebaikan, kedermawanan, kasih sayang, keramahan dari Allah ‘Azza waJalla tatkala ia melakukan perbuatan dosa kemudian bertaubat darinya.
Dua macam roja’ ini sangat terpuji.
❌👉 Yang Ketiga: Berharap Rahmat Allah tanpa Amal.
Permisalannya pada seseorang yang terus menerus berbuat kekurangan dan dosa, dia berharap rahmat Allah Ta’ala namun tanpa melakukan amal sholih. Yang demikian ini dinamakan penipuan, angan-angan, dan harapan palsu.
Roja’ semacam ini sangat tercela, dan inilah yang disebut tamanni (angan-angan kosong).
🗣 Berkata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Ketahuilah bahwa roja’ yang terpuji itu tidaklah terjadi melainkan pada orang yang beramal ketaatan kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, atau bertobat dari kemaksiatan dan berharap diterima tobatnya. Adapun semata-mata roja’ tanpa amal hanyalah sesuatu yang menipu dan angan-angan yang tercela.” (Syarh Tsalatsatil Ushul)
⭕ Tanda-tanda adanya Roja` pada diri seseorang adalah ⭕
👉 Jika mendapatkan kebaikan dia bersyukur,
👉 Jika mendapatkan kebaikan dia berharap mendapatkan kesempurnaan nikmat dari Allah Ta’ala di dunia dan akhirat.
👉 Jika mendapatkan kebaikan tetap mengharapkan ampunan yang sempurna dari Allah Ta’ala di akhirat.
⭕ Peranan Roja` (rasa harap) dan Khouf (rasa takut) dalam kehidupan seseorang ⭕
🗣Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan dalam kitab “Madarij As-Salikin” (1/513);
“Bahwa dalam perjalan menuju Allah ‘Azza waJalla (yakni dalam mengarungi kehidupan dunia) ; Hati laksana burung.
Mahabbah (rasa cinta) berposisi sebagai kepala, sedangkan khouf (rasa takut) dan roja` (rasa harap) sebagai kedua sayapnya.
Apabila kepala beserta kedua sayapnya selamat, maka burung itu bisa terbang dengan baik. Namun ketika terputus kepalanya matilah burung itu. Dan ketika kedua sayapnya hilang atau rusak, burung itu akan menjadi sasaran empuk para pemburu sehingga begitu mudah ditangkap.
💡 💙 Dalam mempraktekkan dua perkara itu dalam kehidupan, ada beberapa sisi pandang yang perlu kita perhatikan bersama di antaranya :
👉 Sisi Pertama: Ketika sehat atau sakit.
💪 Tatkala sehat hendaknya ia mengedepankan khouf (rasa takut) nya. Agar tidak bermudah-mudahan melakukan kemaksiatan.
🗣 Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan;
“Para salaf saat mereka dalam keadaan sehat lebih suka menguatkan sisi khouf (rasa takut) daripada sisi roja` (rasa harap).”
💧Adapun jika rasa sakit datang , maka ia kedepankan roja` (rasa harap) nya, agar tidak putus asa dari rahmat Allah ‘Azza waJalla.
👉 Sisi pandang yang kedua:
🕋 Ketika melakukan ketaatan, ia kedepankan roja` (rasa harap) nya.
🚫 Kemudian tatkala terjerumus dalam satu dosa, ia kedepankan khouf (rasa takut) nya kepada Allah Ta’ala, takut kepada adzab, serta kengerian siksa Neraka Agar hatinya terdorong untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza waJalla.
⭕ Dalil tentang roja QS. AL KAHFI AYAT 110 ⭕
Asy-Syaikh Al-Fauzan hafizhohullah menjelaskan,
Di dalam ayat ini disebutkan tentang Roja`, bahwasanya Roja`(rasa harap) itu termasuk ibadah kepada Allah Azza waJalla.
Dalam ayat ini juga dijelaskan, bahwa Roja` tidak sah kecuali jika diiringi dengan amalan sholeh.
[ Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.137 ]
💯💡⭕ KAEDAH PENTING !!! ⭕
⚠️ Silahkan di baca dan dipelajari baik-baik kaedah ini karena di dalamnya terdapat pelajaran aqidah & manhaj agar dapat terhindar dari syubhat. ⚠️
🕋 Telah kita ketahui bahwa rukun ibadah adalah:
1. al-mahabbah (cinta)
2. al-khauf (takut),
3. ar-roja’ (harapan).
Ketiga rukun ini wajib ada pada diri setiap hamba pada saat dia beribadah. Allah mengumpulkan ketiganya dalam satu ayat-Nya,
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah (sarana, berupa ibadah) kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada-Nya; dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (al-Isra’: 57)
❌ MANHAJ FIRQOH SUFI ❌
Orang yang beribadah kepada Allah semata-mata karena cinta kepada-Nya, ia telah mengikuti jalan orang-orang sufi ekstrem yang mengatakan, “Kami beribadah kepada Allah bukan karena takut akan neraka-Nya, bukan pula karena mengharap surga-Nya. Akan tetapi, kami beribadah kepada-Nya semata-mata karena mencintai-Nya.” Sikap ini akan melahirkan rasa aman dari makar Allah, dan puncaknya adalah kemunafikan.
❌ MANHAJ FIRQOH KHAWARIJ❌
Orang yang beribadah kepada Allah semata-mata karena takut kepada-Nya, ia telah mengikuti jalan orang-orang Khawarij. Tidak ada kecintaan kepada Allah, tidak pula ada harapan kepada-Nya. Oleh karena itu, mereka tidak merasakan kenikmatan dalam ibadah mereka. Seolah-olah mereka berhadapan dengan penguasa yang begitu bengis lagi zalim. Sikap ini akan melahirkan rasa putus asa terhadap rahmat Allah dan buruk sangka kepada-Nya, serta menganggap kafir kaum Muslimin yang melakukan dosa besar dimana yang hal ini menjadi pintu gerbang menuju kekafiran.
✔ Menurut keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin adalah seorang muslim fasiq. Kemaksiatannya tidaklah mengeluarkannya dari Islam dan ia bukanlah mukmin yang sempurna keimanannya. la mukmin dengan imannya dan fasiq dengan dosa besarnya.
Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa hukum pelaku dosa besar di akherat berada di bawah kehendak Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jika Alloh menghendaki akan menyiksanya dengan keadilan-Nya dan jika Alloh menghendaki akan mengampuninya dengan rohmat dan fadhilah-Nya.
❌MANHAJ MURJI'AH❌
Adapun beribadah kepada Allah dengan roja’ saja, ini adalah jalan orang-orang Murji'ah. Mereka teperdaya oleh angan-angan, tidak takut terhadap dosa-dosa, dan meremehkan amal saleh. Ini semua sangat berbahaya dan dikhawatirkan akan menjerumuskan seseorang ke jurang kekufuran. Oleh sebab itu orang-orang Murji'ah menyimpang dalam masalah Iman. Mereka menganggap bahwa dosa tidak mempengaruhi iman.
✔ Sementara Ahlus sunnah menyatakan & meyakini bahwa IMAN ITU ADALAH UCAPAN, AMALAN, DAN KEYAKINAN. UCAPAN DENGAN LISAN, AMALAN DENGAN ANGGOTA BADAN & KEYAKINAN DENGAN HATI. KEIMANAN BERTAMBAH DENGAN KETAATAN & BERKURANG DENGAN KEMAKSIATAN .
Oleh karena ini semua, para salaf mengatakan, “Barang siapa beribadah kepada Allah dengan mahabbah (cinta) saja, dia adalah zindiq (munafik). Barang siapa beribadah kepada-Nya dengan khauf (takut) saja, dia adalah haruri (Khawarij). Barang siapa beribadah kepada-Nya dengan raja’ (harapan) saja, dia adalah Murjiah. Barang siapa beribadah kepada Allah dengan mahabbah, khauf, dan raja’, dia adalah seorang mukmin. "
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلم
Allaahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astaghfiruka limaa laa a'lam.
#bersambung_ In syaa ALLAH
💻 Sumber :
1. audio Kuliah Mafaatihul Ilmi Oleh al Ustadz Dzulqarnain
2. Audio Pembahasan Kitab Tsalatsatul ushul Oleh al Ustadz Khidir, ustadz sofyan Ruray Lc, ustadz Askari dan Ust Abdul Hadi.
3. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Asy Syaikh al Utsaimin
4. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Syaikh Sholeh Al Fauzan
✍✒ Dirangkum & diketik oleh hamba yang dhoif Andi Muhammad Zubair.
♥️ Yuk muroja'ah materi Tsalatsatul Ushul ♥️
Berikut daftar pembahasan dalam artikel ini :
⭕ Defenisi Roja'
⭕ Perbedaan Antara Tamanni dan Roja’
⭕ Macam-macam Roja`
⭕ Tanda-tanda adanya Roja` pada diri seseorang adalah
⭕ Peranan Roja` (rasa harap) dan Khouf (rasa takut) dalam kehidupan seseorang
⭕ Dalil tentang roja QS. AL KAHFI AYAT 110
⭕ Kaedah Penting (Manhaj Firqoh menyimpang dalam masalah Aqidah)
🗣 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah menjelaskan:
ودليل الرجاء قوله تعالى :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
[سورة الكهف، الآية: 110]
Dan dalil untuk Roja` adalah firman Allah Ta’ala (artinya): ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Robbnya.”
[ Al-Kahfi : 110 ]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚PENJELASAN📚
Ar-Roja’ merupakan amalan ibadah yang sangat agung di antara amalan-amalan hati
⭕ Pengertian Roja` ⭕
✒ Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan pengertiannya dalam kitab “Madarij As-Salikin” (2/36 – 37) dengan menyebutkan beberapa pengertian diantaranya:
✔ Roja' adalah dorongan hati untuk meraih negeri yang dicintai, Allah Ta’ala dan negeri akhirat. Sehingga perjalanan hidup serasa menyenangkan hati.
✔ Roja' adalah optimis dengan kebaikan dan keutamaan yang berasal dari Allah Ta’ala. Terus mencarinya dengan hati yang lapang.
✔ Makna lain dari Roja' adalah Percaya (dan yakin) dengan kedermawanan Allah Ta’ala.
✔ Pada intinya Roja` (rasa harap) muncul pada diri seseorang tatkala ia melihat luasnya rohmat Allah Ta’ala. Dan dalam prakteknya harus diiringi dengan amal (usaha). Karena orang-orang bijak sepakat bahwa yang namanya roja` (rasa harap) tidak sah kecuali jika diiringi dengan amal (usaha).
❌ Adapun harapan tanpa usaha dinamakan dengan tamanni (angan-angan semata).
⭕ Perbedaan Antara Tamanni dan Roja’ ⭕
Perbedaan antara keduanya sangatlah jelas. Tamanni adalah mengharapkan sesuatu tanpa menempuh sebab-sebabnya. Adapun roja’ adalah mengharapkan sesuatu dengan menempuh sebab-sebabnya dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
⭕ Macam-macam Roja` ⭕
Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan dalam kitab “Madarij As-Salikin” (2/37) bahwa “Roja`” ada tiga macam, dua yang pertama terpuji, sedangkan yang ketiga tercela;
✔👉 Yang Pertama: Berharap Pahala
Misalnya: Seseorang berharap pahala dengan melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, di atas cahaya (ilmu) dari Allah Ta’ala.
✔👉 Yang Kedua: Berharap Ampunan
Misalnya: Seseorang berharap maaf, ampunan, kebaikan, kedermawanan, kasih sayang, keramahan dari Allah ‘Azza waJalla tatkala ia melakukan perbuatan dosa kemudian bertaubat darinya.
Dua macam roja’ ini sangat terpuji.
❌👉 Yang Ketiga: Berharap Rahmat Allah tanpa Amal.
Permisalannya pada seseorang yang terus menerus berbuat kekurangan dan dosa, dia berharap rahmat Allah Ta’ala namun tanpa melakukan amal sholih. Yang demikian ini dinamakan penipuan, angan-angan, dan harapan palsu.
Roja’ semacam ini sangat tercela, dan inilah yang disebut tamanni (angan-angan kosong).
🗣 Berkata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Ketahuilah bahwa roja’ yang terpuji itu tidaklah terjadi melainkan pada orang yang beramal ketaatan kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, atau bertobat dari kemaksiatan dan berharap diterima tobatnya. Adapun semata-mata roja’ tanpa amal hanyalah sesuatu yang menipu dan angan-angan yang tercela.” (Syarh Tsalatsatil Ushul)
⭕ Tanda-tanda adanya Roja` pada diri seseorang adalah ⭕
👉 Jika mendapatkan kebaikan dia bersyukur,
👉 Jika mendapatkan kebaikan dia berharap mendapatkan kesempurnaan nikmat dari Allah Ta’ala di dunia dan akhirat.
👉 Jika mendapatkan kebaikan tetap mengharapkan ampunan yang sempurna dari Allah Ta’ala di akhirat.
⭕ Peranan Roja` (rasa harap) dan Khouf (rasa takut) dalam kehidupan seseorang ⭕
🗣Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan dalam kitab “Madarij As-Salikin” (1/513);
“Bahwa dalam perjalan menuju Allah ‘Azza waJalla (yakni dalam mengarungi kehidupan dunia) ; Hati laksana burung.
Mahabbah (rasa cinta) berposisi sebagai kepala, sedangkan khouf (rasa takut) dan roja` (rasa harap) sebagai kedua sayapnya.
Apabila kepala beserta kedua sayapnya selamat, maka burung itu bisa terbang dengan baik. Namun ketika terputus kepalanya matilah burung itu. Dan ketika kedua sayapnya hilang atau rusak, burung itu akan menjadi sasaran empuk para pemburu sehingga begitu mudah ditangkap.
💡 💙 Dalam mempraktekkan dua perkara itu dalam kehidupan, ada beberapa sisi pandang yang perlu kita perhatikan bersama di antaranya :
👉 Sisi Pertama: Ketika sehat atau sakit.
💪 Tatkala sehat hendaknya ia mengedepankan khouf (rasa takut) nya. Agar tidak bermudah-mudahan melakukan kemaksiatan.
🗣 Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan;
“Para salaf saat mereka dalam keadaan sehat lebih suka menguatkan sisi khouf (rasa takut) daripada sisi roja` (rasa harap).”
💧Adapun jika rasa sakit datang , maka ia kedepankan roja` (rasa harap) nya, agar tidak putus asa dari rahmat Allah ‘Azza waJalla.
👉 Sisi pandang yang kedua:
🕋 Ketika melakukan ketaatan, ia kedepankan roja` (rasa harap) nya.
🚫 Kemudian tatkala terjerumus dalam satu dosa, ia kedepankan khouf (rasa takut) nya kepada Allah Ta’ala, takut kepada adzab, serta kengerian siksa Neraka Agar hatinya terdorong untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza waJalla.
⭕ Dalil tentang roja QS. AL KAHFI AYAT 110 ⭕
Asy-Syaikh Al-Fauzan hafizhohullah menjelaskan,
Di dalam ayat ini disebutkan tentang Roja`, bahwasanya Roja`(rasa harap) itu termasuk ibadah kepada Allah Azza waJalla.
Dalam ayat ini juga dijelaskan, bahwa Roja` tidak sah kecuali jika diiringi dengan amalan sholeh.
[ Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah hal.137 ]
💯💡⭕ KAEDAH PENTING !!! ⭕
⚠️ Silahkan di baca dan dipelajari baik-baik kaedah ini karena di dalamnya terdapat pelajaran aqidah & manhaj agar dapat terhindar dari syubhat. ⚠️
🕋 Telah kita ketahui bahwa rukun ibadah adalah:
1. al-mahabbah (cinta)
2. al-khauf (takut),
3. ar-roja’ (harapan).
Ketiga rukun ini wajib ada pada diri setiap hamba pada saat dia beribadah. Allah mengumpulkan ketiganya dalam satu ayat-Nya,
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah (sarana, berupa ibadah) kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada-Nya; dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (al-Isra’: 57)
❌ MANHAJ FIRQOH SUFI ❌
Orang yang beribadah kepada Allah semata-mata karena cinta kepada-Nya, ia telah mengikuti jalan orang-orang sufi ekstrem yang mengatakan, “Kami beribadah kepada Allah bukan karena takut akan neraka-Nya, bukan pula karena mengharap surga-Nya. Akan tetapi, kami beribadah kepada-Nya semata-mata karena mencintai-Nya.” Sikap ini akan melahirkan rasa aman dari makar Allah, dan puncaknya adalah kemunafikan.
❌ MANHAJ FIRQOH KHAWARIJ❌
Orang yang beribadah kepada Allah semata-mata karena takut kepada-Nya, ia telah mengikuti jalan orang-orang Khawarij. Tidak ada kecintaan kepada Allah, tidak pula ada harapan kepada-Nya. Oleh karena itu, mereka tidak merasakan kenikmatan dalam ibadah mereka. Seolah-olah mereka berhadapan dengan penguasa yang begitu bengis lagi zalim. Sikap ini akan melahirkan rasa putus asa terhadap rahmat Allah dan buruk sangka kepada-Nya, serta menganggap kafir kaum Muslimin yang melakukan dosa besar dimana yang hal ini menjadi pintu gerbang menuju kekafiran.
✔ Menurut keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin adalah seorang muslim fasiq. Kemaksiatannya tidaklah mengeluarkannya dari Islam dan ia bukanlah mukmin yang sempurna keimanannya. la mukmin dengan imannya dan fasiq dengan dosa besarnya.
Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa hukum pelaku dosa besar di akherat berada di bawah kehendak Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jika Alloh menghendaki akan menyiksanya dengan keadilan-Nya dan jika Alloh menghendaki akan mengampuninya dengan rohmat dan fadhilah-Nya.
❌MANHAJ MURJI'AH❌
Adapun beribadah kepada Allah dengan roja’ saja, ini adalah jalan orang-orang Murji'ah. Mereka teperdaya oleh angan-angan, tidak takut terhadap dosa-dosa, dan meremehkan amal saleh. Ini semua sangat berbahaya dan dikhawatirkan akan menjerumuskan seseorang ke jurang kekufuran. Oleh sebab itu orang-orang Murji'ah menyimpang dalam masalah Iman. Mereka menganggap bahwa dosa tidak mempengaruhi iman.
✔ Sementara Ahlus sunnah menyatakan & meyakini bahwa IMAN ITU ADALAH UCAPAN, AMALAN, DAN KEYAKINAN. UCAPAN DENGAN LISAN, AMALAN DENGAN ANGGOTA BADAN & KEYAKINAN DENGAN HATI. KEIMANAN BERTAMBAH DENGAN KETAATAN & BERKURANG DENGAN KEMAKSIATAN .
Oleh karena ini semua, para salaf mengatakan, “Barang siapa beribadah kepada Allah dengan mahabbah (cinta) saja, dia adalah zindiq (munafik). Barang siapa beribadah kepada-Nya dengan khauf (takut) saja, dia adalah haruri (Khawarij). Barang siapa beribadah kepada-Nya dengan raja’ (harapan) saja, dia adalah Murjiah. Barang siapa beribadah kepada Allah dengan mahabbah, khauf, dan raja’, dia adalah seorang mukmin. "
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلم
Allaahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astaghfiruka limaa laa a'lam.
#bersambung_ In syaa ALLAH
💻 Sumber :
1. audio Kuliah Mafaatihul Ilmi Oleh al Ustadz Dzulqarnain
2. Audio Pembahasan Kitab Tsalatsatul ushul Oleh al Ustadz Khidir, ustadz sofyan Ruray Lc, ustadz Askari dan Ust Abdul Hadi.
3. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Asy Syaikh al Utsaimin
4. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Syaikh Sholeh Al Fauzan
✍✒ Dirangkum & diketik oleh hamba yang dhoif Andi Muhammad Zubair.
Comments
Post a Comment