📚 BAGIAN 24 - Do'a adalah Ibadah📚
♥️ Yuk muroja'ah materi Tsalatsatul Ushul ♥️
🗣 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah- menjelaskan:
وَفِي الْحَدِيثِ: «الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ» .
وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر:60]
Dan di dalam hadits : “Doa adalah inti ibadah.”
Dalilnya adalah firman Allah –Ta’ala-:
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." [ Ghofir: 60 ]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚PENJELASAN📚
Asy-Syaikh –rohimahullah- menyebutkan sebuah hadits dari shahabat Anas bin Malik –rodhiyallahu ‘anhu- yang berbunyi:
الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ
Artinya: “Doa itu inti ibadah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dalam kitab “Sunan”-nya no.3371.
❌ Hadits ini derajatnya dhoif (lemah) dikarenakan ada seorang rowi (pembawa) hadits yang bernama Ibnu Lahiiah. Di mana keadaan Ibnu Lahiiah ini adalah “Sayyi`ul Hifzh” (Jelek hafalannya). Sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah- dalam kitab “Ahkamul Janaiz”; (1/194).
✔ Namun di sana, ada riwayat lain yang shohih; dari shahabat Nu’man bin Basyir –rodhiyallahu ‘anhu-; bahwasanya Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (18352), Abu Dawud (1479), At-Tirmidzi (2969), Ibnu Majah (3828), Al-Hakim (1802).
Dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rohimahullah- dalam kitab “Shohih Al-Jami’” no.3407, “Shohih Abi Dawud” no.1329.
Alasan pendalilan yang menunjukkan bahwa do’a itu adalah ibadah, dapat disimpulkan dari susunan kalimat dalam hadits tersebut. Dhomir fashl terletak di antara mubtada` dan khobar. Keduanya sama-sama ma’rifat.
Jika diterapkan dalam hadits ini, maka detailnya sebagai berikut:
Mubtada`: الدعاء
Dhomir Fashl: هو
Khobar: العبادة
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Ushulun Fit Tafsir, bahwa dhomir fashl memiliki tiga faedah, yaitu penegasan, pembatasan, dan pembeda.
Oleh karena itu, hadits yang agung ini mengandung
⭕ Penegasan: yaitu menguatkan makna bahwa do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dan termasuk perkara yang terbesar dalam ibadah.
⭕ Pembatasan: Syaikh Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud pembatasan adalah mengkhususkan sesuatu yang disebutkan sebelum dhomir fashl dengan sesuatu yang disebutkan sesudah dhomir fashl.
Dengan demikian, dalam hadits الدعاء هو العبادة, ini mengandung pembatasan bahwa seolah-olah hanya do’a lah yang menjadi kandungan dari sebuah ibadah. Ini adalah gaya bahasa Arab (baca: Majas) untuk mengungkapkan betapa sangat besar kedudukan do’a sebagai sebuah ibadah. Bahkan dalam setiap ibadah itu ada unsur do’a (permohonan dan perendahan diri).
💙 Ayat yang mulia tersebut (QS. GHOFIR : 60) menunjukkan bahwa DOA termasuk IBADAH. Seandainya tidak demikian, maka tidak dikatakan dalam ayat,
*إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين*
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku niscaya akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
❌ Maka barang siapa BERDOA kepada selain Allah azza wajalla dengan hajat permintaan yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah, maka orang tersebut MUSYRIK DAN KAFIR, baik sesuatu yang dimintai doa itu masih hidup ataupun sudah mati.
✔ Barang siapa meminta kepada makhluk yang masih hidup dengan sesuatu yang dia MAMPU untuk memenuhinya, misalnya dia meminta, "Wahai fulan, beri aku makanan. Wahai fulan, beri aku minum", maka hal ini TIDAK MENGAPA (BOLEH).
❌❌Akan tetapi meminta-minta kepada makhluk yang sudah MATI atau kepada orang yang TIDAK ADA di hadapannya dengan permintaan yang sama seperti di atas, maka dia MUSYRIK. Sebab MAYIT (orang yang telah mati) atau orang yang TIDAK ADA di hadapannya tidak mungkin bisa memenuhi permintaan seperti itu.
❌❌ Maka doa dan permintaannya kepada MAYIT dan orang yang tidak ada di hadapannya tersebut menunjukkan bahwa dia punya KEYAKINAN, bahwa selain Allah tersebut memiliki kemampuan untuk mengatur kejadian yang ada , maka karena KEYAKINAN itulah dia telah melakukan KESYIRIKAN (menyekutukan Allah).
💡 Dan ketahuilah, bahwa DOA ADA DUA MACAM, yaitu: 1. DOA MASALAH dan 2. DOA IBADAH
1. DOA MASALAH
Adalah doa permintaan, yakni meminta hajat kebutuhan. Doa masalah ini adalah IBADAH jika doa ini diminta oleh seorang hamba kepada Rabb-nya.
Doa masalah ini diminta dengan disertai sikap merasa
butuh (ketergantungan kepada Allah), dan bersandar diri kepada Allah, dan yakin bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha luas Karunia dan Rahmat-Nya.
Dan BOLEH doa masalah/permintaan ini diminta kepada sesama MAKHLUK, dengan syarat :
- Orang yg diminta masih hidup & hadir saat dimintai.
- Yang diminta bukan pada hal-hal ke khususan bagi Allah.
- hal yg diminta di izinkan & dibenarkan dalam syariat.
- Makhluk yang dimintai memahami doa permintaan tersebut, dan
- dia MAMPU memenuhi permintaan tersebut.
Sebagaimana contoh sebelumnya tentang seseorang yang meminta kepada orang lain, "Wahai fulan, beri aku makan."
2. DOA IBADAH
Adalah doa yang dilakukan dalam rangka BERIBADAH kepada sesuatu yang dimintai dengan doa itu, dengan tujuan untuk mencari pahala darinya, dan takut dari hukumannya.
🚫❌ DOA IBADAH ini tidak boleh ditujukan kepada SELAIN Allah.
⚠️ DOA IBADAH ini jika ditujukan kepada SELAIN Allah adalah amalan SYIRIK BESAR yang mengeluarkan pelakunya dari agama (murtad), dan dia terkena ANCAMAN firman Allah ta'ala,
*إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ*
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, maka dia akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir: 60)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلم
Allaahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astaghfiruka limaa laa a'lam.
#bersambung_ In syaa ALLAH
💻 Sumber :
1. audio Kuliah Mafaatihul Ilmi Oleh al Ustadz Dzulqarnain
2. Audio Pembahasan Kitab Tsalatsatul ushul Oleh al Ustadz Khidir, ustadz sofyan Ruray Lc, ustadz Askari dan Ust Abdul Hadi.
3. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Asy Syaikh al Utsaimin
4. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Syaikh Sholeh Al Fauzan
✍✒ Dirangkum & diketik oleh hamba yang dhoif Andi Muhammad Zubair
♥️ Yuk muroja'ah materi Tsalatsatul Ushul ♥️
🗣 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah- menjelaskan:
وَفِي الْحَدِيثِ: «الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ» .
وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر:60]
Dan di dalam hadits : “Doa adalah inti ibadah.”
Dalilnya adalah firman Allah –Ta’ala-:
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." [ Ghofir: 60 ]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚PENJELASAN📚
Asy-Syaikh –rohimahullah- menyebutkan sebuah hadits dari shahabat Anas bin Malik –rodhiyallahu ‘anhu- yang berbunyi:
الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ
Artinya: “Doa itu inti ibadah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dalam kitab “Sunan”-nya no.3371.
❌ Hadits ini derajatnya dhoif (lemah) dikarenakan ada seorang rowi (pembawa) hadits yang bernama Ibnu Lahiiah. Di mana keadaan Ibnu Lahiiah ini adalah “Sayyi`ul Hifzh” (Jelek hafalannya). Sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah- dalam kitab “Ahkamul Janaiz”; (1/194).
✔ Namun di sana, ada riwayat lain yang shohih; dari shahabat Nu’man bin Basyir –rodhiyallahu ‘anhu-; bahwasanya Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah ibadah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (18352), Abu Dawud (1479), At-Tirmidzi (2969), Ibnu Majah (3828), Al-Hakim (1802).
Dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rohimahullah- dalam kitab “Shohih Al-Jami’” no.3407, “Shohih Abi Dawud” no.1329.
Alasan pendalilan yang menunjukkan bahwa do’a itu adalah ibadah, dapat disimpulkan dari susunan kalimat dalam hadits tersebut. Dhomir fashl terletak di antara mubtada` dan khobar. Keduanya sama-sama ma’rifat.
Jika diterapkan dalam hadits ini, maka detailnya sebagai berikut:
Mubtada`: الدعاء
Dhomir Fashl: هو
Khobar: العبادة
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Ushulun Fit Tafsir, bahwa dhomir fashl memiliki tiga faedah, yaitu penegasan, pembatasan, dan pembeda.
Oleh karena itu, hadits yang agung ini mengandung
⭕ Penegasan: yaitu menguatkan makna bahwa do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dan termasuk perkara yang terbesar dalam ibadah.
⭕ Pembatasan: Syaikh Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud pembatasan adalah mengkhususkan sesuatu yang disebutkan sebelum dhomir fashl dengan sesuatu yang disebutkan sesudah dhomir fashl.
Dengan demikian, dalam hadits الدعاء هو العبادة, ini mengandung pembatasan bahwa seolah-olah hanya do’a lah yang menjadi kandungan dari sebuah ibadah. Ini adalah gaya bahasa Arab (baca: Majas) untuk mengungkapkan betapa sangat besar kedudukan do’a sebagai sebuah ibadah. Bahkan dalam setiap ibadah itu ada unsur do’a (permohonan dan perendahan diri).
💙 Ayat yang mulia tersebut (QS. GHOFIR : 60) menunjukkan bahwa DOA termasuk IBADAH. Seandainya tidak demikian, maka tidak dikatakan dalam ayat,
*إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين*
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku niscaya akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
❌ Maka barang siapa BERDOA kepada selain Allah azza wajalla dengan hajat permintaan yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah, maka orang tersebut MUSYRIK DAN KAFIR, baik sesuatu yang dimintai doa itu masih hidup ataupun sudah mati.
✔ Barang siapa meminta kepada makhluk yang masih hidup dengan sesuatu yang dia MAMPU untuk memenuhinya, misalnya dia meminta, "Wahai fulan, beri aku makanan. Wahai fulan, beri aku minum", maka hal ini TIDAK MENGAPA (BOLEH).
❌❌Akan tetapi meminta-minta kepada makhluk yang sudah MATI atau kepada orang yang TIDAK ADA di hadapannya dengan permintaan yang sama seperti di atas, maka dia MUSYRIK. Sebab MAYIT (orang yang telah mati) atau orang yang TIDAK ADA di hadapannya tidak mungkin bisa memenuhi permintaan seperti itu.
❌❌ Maka doa dan permintaannya kepada MAYIT dan orang yang tidak ada di hadapannya tersebut menunjukkan bahwa dia punya KEYAKINAN, bahwa selain Allah tersebut memiliki kemampuan untuk mengatur kejadian yang ada , maka karena KEYAKINAN itulah dia telah melakukan KESYIRIKAN (menyekutukan Allah).
💡 Dan ketahuilah, bahwa DOA ADA DUA MACAM, yaitu: 1. DOA MASALAH dan 2. DOA IBADAH
1. DOA MASALAH
Adalah doa permintaan, yakni meminta hajat kebutuhan. Doa masalah ini adalah IBADAH jika doa ini diminta oleh seorang hamba kepada Rabb-nya.
Doa masalah ini diminta dengan disertai sikap merasa
butuh (ketergantungan kepada Allah), dan bersandar diri kepada Allah, dan yakin bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha luas Karunia dan Rahmat-Nya.
Dan BOLEH doa masalah/permintaan ini diminta kepada sesama MAKHLUK, dengan syarat :
- Orang yg diminta masih hidup & hadir saat dimintai.
- Yang diminta bukan pada hal-hal ke khususan bagi Allah.
- hal yg diminta di izinkan & dibenarkan dalam syariat.
- Makhluk yang dimintai memahami doa permintaan tersebut, dan
- dia MAMPU memenuhi permintaan tersebut.
Sebagaimana contoh sebelumnya tentang seseorang yang meminta kepada orang lain, "Wahai fulan, beri aku makan."
2. DOA IBADAH
Adalah doa yang dilakukan dalam rangka BERIBADAH kepada sesuatu yang dimintai dengan doa itu, dengan tujuan untuk mencari pahala darinya, dan takut dari hukumannya.
🚫❌ DOA IBADAH ini tidak boleh ditujukan kepada SELAIN Allah.
⚠️ DOA IBADAH ini jika ditujukan kepada SELAIN Allah adalah amalan SYIRIK BESAR yang mengeluarkan pelakunya dari agama (murtad), dan dia terkena ANCAMAN firman Allah ta'ala,
*إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ*
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, maka dia akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir: 60)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلم
Allaahumma innii a'uudzu bika an usyrika bika wa anaa a'lam, wa astaghfiruka limaa laa a'lam.
#bersambung_ In syaa ALLAH
💻 Sumber :
1. audio Kuliah Mafaatihul Ilmi Oleh al Ustadz Dzulqarnain
2. Audio Pembahasan Kitab Tsalatsatul ushul Oleh al Ustadz Khidir, ustadz sofyan Ruray Lc, ustadz Askari dan Ust Abdul Hadi.
3. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Asy Syaikh al Utsaimin
4. Terjemahan Syarah Tsalatsatul Ushul Syaikh Sholeh Al Fauzan
✍✒ Dirangkum & diketik oleh hamba yang dhoif Andi Muhammad Zubair
Comments
Post a Comment